Khawatir

Hampir sebelum tertidur, Zhang Hao bisa merasakan seseorang duduk di dekat kepalanya. Itu Hanbin. Dia menatap Zhang Hao sejenak, lalu melihat ponsel calon dokter itu di atas meja. “Lo ga jawab 10 panggilan sama ratusan chat.”

Saat Hanbin berbicara, Zhang Hao baru sadar kalau teleponnya bergetar. Tapi dia terlalu lelah untuk mengeceknya.

“Dari Jiwoong.” Hanbin memberitahu Zhang Hao siapa yang menelepon.

Zhang Hao menghela nafas panjang. “Ngapain kesini?”

Hanbin mendecakkan lidahnya. “Pengen lihat lo.”

“Mau apa?”

Seringai muncul di bibir Hanbin, “Emngnya bakal dikabulin?”

Zhang Hao masih berbaring di kursi panjang saat Hanbin duduk tepat di samping kepalanya di kursi yang sama. Mereka bertukar pandang. “Fuck you!” Kemudian tertawa bersama.

Setelah agak lama, wajah Hanbin perlahan menjadi serius. “Hao, jujur. Lo baik-baik aja? Beneran gak papa?”

Zhang Hao menatapnya lagi, matanya menangkap ekspresi pria itu yang dipenuhi oleh kekhawatiran. “I'm okay bin, nanti juga enakkan.” Jawabnya.

Hanbin menghela nafas panjang.

This gentleman..” goda Hao. “Biasanya emang suka kayak gini?”

“Gimana?”

“Pagi-pagi sibuk ngecek partner ONS nya buat mastiin dia baik-baik aja, apalagi muka lo keliatan khawatir banget..? Awas nanti orang bisa salah paham, Iho...”

Hanbin menghela napas lagi. “Never. Gue gak pernah repot-repot kayak gini, tapi ini lo….. I don't know.” Dia ragu-ragu “Gue cuma mau mastiin semuanya baik-baik aja di antara kita.”

Zhang Hao menyentuh lengan Hanbin saat masih berbaring di kursi.

“Everything is alright.” Zhang Hao menepuk lengan Hanbin dan berkata, “Gue bisa ngatasinnya.”

Hanbin menatap Zhang Hao lekat-lekat dan perlahan menurunkan wajahnya sampai hanya berjarak beberapa senti dari wajah Zhang Hao.

“Kalau gitu jawab telepon dan balas chat gue, sial.”

Zhang Hao mencubit hidungnya. “Umm… Kenapa? Lo mau lagi?”

Dia menyeringai, “Boleh gak?”

Fuck off , kasih gue istirahat dulu bajingan!”

Hanbin tertawa dan menegakkan dirinya lagi. “Berarti abis ini boleh ya.”

“Brengsek.” Zhang Hao menutup matanya lagi dengan lengannya. “Gue mau tidur dulu sekarang, nanti ada kelas jam 3.”

“Oke.” Kata Hanbin. Tapi dia masih duduk di kursi.

Sambil menutup mata, telinga Hao menangkap suara-suara game.

Tidak lama sebuah suara dingin membuat Zhang Hao membuka matanya lagi. “Lo ngapain di sini?”

Itu Kim Jiwoong.

Jiwoong tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat.

Bukannya Hao tertidur di pangkuan Hanbin, tapi sebenarnya bagi dia sama saja karena sahabatnya berbaring tepat di tempat Hanbin duduk.

“Sejak kapan kalian se akrab ini?”

Zhang Hao duduk perlahan sementara Jiwoong masih berdiri di dekat meja.

Hanbin kembali menatap Jiwoong dan mengangkat bahunya, “Es latte Fakultas kedokteran enak.” Kata Hanbin.

Zhang Hao terkekeh.

Jiwoong memelototinya. Zhang Hao cekikikan? Ke Hanbin? Menurutnya itu bahkan tidak lucu sama sekali.

Hanbin mematikan game, mengunci ponselnya, dan berdiri. “Jawab telpon dan balas chat,” katanya kepada Zhang Hao yang hanya mengangguk dan tersenyum.

Tangannya mengusap rambut Zhang Hao pelan setelah itu dia pergi.

Gerakan kecil itu hampir membuat bola mata Jiwoong keluar dari tempatnya. Bahkan pemilik rambut menjadi tertegun.

Jiwoong sudah dekat dengan Hanbin sejak Kontes Duta Kampus tahun lalu, tetapi semuanya berubah sejak ada sesuatu antara dia, Hanbin, dan Matthew.

Tapi sekarang pria itu tiba-tiba berteman dengan Zhang Hao?

Apa yang dia inginkan?

Pikiran Jiwoong dipenuhi oleh berbagai macam skenario.

Zhang Hao menguap. Dia memasukkan buku besar ke dalam tasnya untuk kelas sore.

“Sejak kapan lo sedekat itu sama tu anak?”

Yang ditanya mengangkat bahu. “Gue udah bilang, gue minum-minum sama mahasiswa teknik tadi malam.” Dia bangun dari kursi.

“Ricky mana?”

Zhang Hao menggelengkan kepalanya. “Nggak tau. Kirain sama lo.”

Lalu mereka mendengar suara Ricky. “Sial... Gue telat kah...? Gue telat nggak?” Ricky berlari dari kejauhan.

“Zhang Hao anjing, kenapa lo gak ngebangunin gue???”

“Gue kira lo nginep di rumah Gyuvin.”