A Suprise
Sesampainya Zhang Hao di depan apartemen kekasihnya, dia duduk di bangku di depan pintu apartemen dan menaruh bunga yang ia beli dari toko sang sahabat, di samping kanannya. Sembari menunggu, ia berbicara sendiri.
Lebih tepatnya, memeragakan kemungkinan dialog yang akan terjalin ketika Jianyu melamarnya sehingga gadis itu tersipu sendiri oleh aktingnya. Ia bahkan berhasil mengeluarkan air mata saking terharunya. Tidak menyadari bahwa seseorang sedang menatapnya seolah-olah melihat sesuatu yang ajaib.
“Dasar gila!” Kedatangan suara mengejek ini membuat Zhang Hao terkejut.
“Ah!.. sialan.. lo ngagetin gue. ” pekik Zhang Hao menyadari keberadaan Hanbin. “Sung Hanbin..?”
“Ya.. ini gua, kenapa?” Hanbin menyahut dengan sinis.
“Kenapa lo kesini? Lo ngikutin gue? Terus sejak kapan lo ada disini?” Zhang Hao membombardirnya dengan rentetan pertanyaan.
“Bisa gak nanya nya satu-satu?”
“Ohh.. oke.” “Kenapa lo kesini?” Tanya Zhang Hao ulang.
“Karena ini apartemen gua.”
Zhang Hao mengalihkan pandangannya untuk melihat nomor apartemen. 118… Dia tidak salah.
“Lo jangan bercanda… ” Zhang Hao terheran-heran, jari nya menunjuk pintu apartemen yang ia pikir milik kekasihnya. “Gimana bisa lo nge klaim apartemen ini jadi milik lo?!”
“Gua gak punya waktu buat bercanda.” Timbal balik Hanbin. “Lagian harusnya gua yang nanya kenapa lo ada disini? Di depan pintu apartemen gua... ”
“Bukan urusan lo gue mau ngapain.” Ucap Zhang Hao sinis.
Detik kemudian, Hanbin menarik tangan Zhang Hao dengan cukup kasar, membuat pemuda itu memekik.
“Aww! Lo apa-apaan sih?!!”
“Ngegusur lo biar pergi.. ”
Hanbin berusaha menarik tangan Zhang Hao, namun Zhang Hao terus mempertahankan dirinya agar tak diusir oleh Hanbin. Dia harus bertahan demi bertemu dengan kekasihnya.
Tidak lama, pintu apartemen milik Hanbin terbuka dari dalam dan hal itu berhasil membuat Zhang Hao, yang memang duduk didepan pintu, terjatuh bersamaan dengan Hanbin yang menimpanya. Jarak antara dua wajah itu sangatlah dekat, jika Hanbin menunduk sedikit, kedua bibir mereka akan bertemu. Melihat wajah yang cantik halus dalam jarak sedekat itu, jantung Hanbin bergemuruh hebat.
“Hao…” seseorang memanggil dengan suara pelan.
Mengenal suara tersebut, Zhang Hao buru buru berusaha untuk menjauh dari Hanbin. Tapi, karena posisi dia berada dibawah, itu membuatnya agak kesulitan.
“Pssstt, lo mau kayak gini terus apa?” Bisik Zhang Hao, yang masih merasa gugup.
“Kenapa? Bukannya ini enak? Lo gugup, ya?” Bisik kembali Hanbin yang malah menggodanya.
“Ih.. cepetan bangun… ” pinta Zhang Hao.
Tanpa berlama lama, Hanbin pun bangkit dari tempatnya, dan diikuti oleh Zhang Hao.
“Ah.. Haha.. Kak Jianyu udah disini ternyata ” Zhang Hao tersenyum mencairkan suasana.
“Iya.. Aku buat kamu nunggu lama?” Tanya Jian Yu basa basi.
Zhang Hao buru-buru menggelengkan kepalanya, “Enggak kok.. Enggak juga.”
Hanbin yang melihat mereka pun, hanya bisa tersenyum sinis. Entah mengapa, dia merasa jijik melihat pasangan yang berkencan.
“Hao, dia siapa?” Keberadaan Hanbin, membuat Jianyu heran.
“Ohh.. dia bukan siapa-siapa.. ” ujar Zhang Hao terdengar tak peduli.
“Apa?!” Pekik Hanbin tak percaya.
“Oh iya, ada sesuatu yang mau aku omongin, Kak—” Belum menyelesaikan ucapannya, seseorang memotong perkataan Zhang Hao. Itu bukanlah Jianyu maupun Hanbin.
“Kakak.... ayo lanjutin mainnya~ ” nada centil terdengar bersamaan dengan kemunculan seorang gadis cantik yang penampilannya terlihat berantakan.
Apa? Berantakan?
“Kamu nggak bisa nunggu bentar?” Jianyu berkata pada gadis asing itu dengan memanjakan.
“Ihh... Kakak nyebelin deh..” Gadis itu membalas dengan senyuman di akhir.
Zhang Hao, bahkan Hanbin, sangat terkejut dengan pemandangan yang tengah mereka lihat saat ini. Tunggu.. apa yang sebenarnya terjadi? Hanbin, sebagai pemilik apartemen yang baru, merasa harga dirinya jatuh begitu saja melihat pasangan gila di hadapannya, “Hey.. kalian—”.
“Kalian sangat menjijikkan.” Perkataan Hanbin terpotong oleh emosi Zhang Hao yang meluap. “Kak Jianyu.. tolong jelasin, apa yang sebenarnya terjadi.. jelasin kalau pikiran ku saat ini salah.” Lanjutnya.
“Jadi kamu yang namanya Zhang Hao... ” sahut gadis tadi.
“Lo tahu ama gue?”
“Iyalah. Ah… Biar aku yang jelasin.” Jawabnya. “Kita udah pacaran dibelakang kamu selama setahun. Kamu gak sadar kalau Kak Jianyu cuma punya waktu sedikit buat kamu? Dia bahkan sering nolak kalau kamu minta jalan. Dan itu karena aku.” Jelasnya panjang lebar.
Zhang Hao yang mendengar hanya bisa menatap Jian Yu dan gadis itu secara bergantian. Tatapan antara merasa sakit, jijik, juga marah, bercampur menjadi satu. Ia mundur sebentar dan kembali setelah mengambil buket bunga yang dibawanya.
“Ahh.. iya.. bodoh banget gue gak nyadar apa yang udah kalian lakuin ke gue selama ini.. hahaha.. bodoh banget.” Ucap Zhang Hao dengan senyum liciknya.
Dan detik kemudian, Zhang Hao memukul Jian Yu kasar menggunakan buket bunganya. Tentu saja hal tersebut membuat Jian Yu juga gadis itu terkejut. Sedangkan Hanbin masih berdiri disana tanpa melakukan sesuatu.
“Makan ini!! Rasakan!! Lo emang laki-laki bajingan! Argh!!!” Ujar Zhang Hao yang terus memukul Jian Yu secara membabi-buta.
“Stop.. Berhenti!” Gadis itu mencoba menghentikan pergerakan Zhang Hao.
“Apa? Lo mau gue pukul juga?! Dasar lonte!!!” bentak Zhang Hao, dan kemudian juga memukul gadis tersebut.
Suasana diantara mereka berempat — sebenarnya minus Hanbin—menjadi ricuh karena kemarahan Zhang Hao.
Hanbin tetap diam, atau lebih tepatnya, membiarkan Zhang Hao melampiaskan semua amarahnya. Dalam sekelebat, sebuah memori kecil teringat di kepala Hanbin 7 tahun yang lalu, saat ia masih duduk di bangku SMA.
Zhang Hao masih memukuli Jianyu juga pacar gelapnya menggunakan buket bunga. Bahkan tanpa sadar, kelopak-kelopak bunga itu terus berjatuhan dan membuat ruang tamu apartemen Hanbin terlihat sangat berantakan.
Tersadar dari lamunannya, Hanbin yang sudah muak akhirnya menghentikan aksi Zhang Hao, menengahi mereka bertiga.
“Tenang… Tenangin diri kamu.. ” Suara lirih itu membuat Zhang Hao menjadi agak tenang.
Hanbin membalikkan tubuhnya, menghadap Jianyu dan kekasihnya lalu berkata. “Sekarang kalian bisa pergi.. Dan lo yang namanya Jianyu.. ”
“Gua? ” Jianyu menaikan alisnya sebelah.
“Bukannya lo udah jual apartemen ini ke gua? Kenapa lo masih pake?”
“Jadi lo orangnya?” Jianyu terkejut, ia yang sebelumnya duduk di sofa, bangkit lalu membungkukkan setengah badannya. “Sorry, gua minta maaf.. gue lupa kalau apartemen ini udah dijual.. tentang itu— ” belum sempat menyelesaikan ucapannya, Hanbin telah memotongnya.
“Selagi gua masih bicara baik-baik, mendingan lo keluar dari sini sekarang juga.” Hanbin mencoba menahan emosinya.
“Oke.. Oke.” Ucap Jianyu tegas, lalu segera menarik gadisnya dan pergi.
Suasana kembali diam setelah kepergian dua orang tadi. Hanbin menuntun Zhang Hao untuk duduk di sofanya, dan pemuda itu juga terlihat tak menolak.
“Tunggu, gua ke dapur dulu buat ambil air minum.”
Tidak memperhatikan Hanbin yang beranjak ke dapur, Zhang Hao sibuk dengan tatapan kosong-nya, terus memutar otak mengingat bagaimana dengan mudahnya Jianyu menunjukkan kemesraannya dengan gadis lain. Ia bahkan masih tak percaya dengan apa yang ia lihat tadi. Hari ini adalah Anniversary ke-4 mereka, namun bukanlah lamaran yang ia dapat melainkan amarah melihat sebuah perselingkuhan. Ini bukan mimpi. Kejutan itu nyata.
Sebuah tangan menyodorkan segelas air putih, membuyarkan lamunan kosonya namun Zhang Hao hanya bisa menatapnya tanpa menerima.
“Minum, buat diri lo agak tenang.” Ujar Hanbin.
Dengan terpaksa, Zhang Hao menerima dan meminumnya sampai tetes terakhir.
“Huh.. air putih gak bisa nenangin gue.” Ucap Zhang Hao setelahnya.
Pemuda itu bangkit dari tempatnya, lalu membungkukkan badan dan berpamitan. “Maaf atas kekacauan yang gue perbuat... ” setelahnya ia melambaikan tangan.
Namun sesaat ketika dia akan pergi, kerahnya ditarik oleh sang pemilik apartemen, hal itu membuat Zhang Hao menghentikan langkah nya.
“Ish.. apa lagi?” Zhang Hao merengut kesal.
“Kalau lo tau salah, kenapa lo pergi dari kekacauan yang lo lakuin?”
“Apa?! Ung… gua kira lo bakalan ngebiarin gue pergi soalnya lo tau gue lagi patah hati…”
“Iya, gua tahu. Tapi bukan berarti lo bisa lari gitu aja. Tidak!!” Hanbin memberikan penekanan pada kata ‘Tidak’. Detik kemudian, ia membalikkan tubuh Zhang Hao menghadap dirinya dan berkata dengan tegas, “Sekarang, bersihin semuanya. Sebersih mungkin!!”
Setelah itu, ia meninggalkan Zhang Hao sendiri menuju kamar tidurnya. Bahkan, Hanbin menutup pintu dengan cukup keras.
“Ck… dasar!!” Gumam Zhang Hao kesal, lalu ia memulai memunguti kelopak demi kelopak bunga.