RUBY BELLADONNA

Khawatir

Hampir sebelum tertidur, Zhang Hao bisa merasakan seseorang duduk di dekat kepalanya. Itu Hanbin. Dia menatap Zhang Hao sejenak, lalu melihat ponsel calon dokter itu di atas meja. “Lo ga jawab 10 panggilan sama ratusan chat.”

Saat Hanbin berbicara, Zhang Hao baru sadar kalau teleponnya bergetar. Tapi dia terlalu lelah untuk mengeceknya.

“Dari Jiwoong.” Hanbin memberitahu Zhang Hao siapa yang menelepon.

Zhang Hao menghela nafas panjang. “Ngapain kesini?”

Hanbin mendecakkan lidahnya. “Pengen lihat lo.”

“Mau apa?”

Seringai muncul di bibir Hanbin, “Emngnya bakal dikabulin?”

Zhang Hao masih berbaring di kursi panjang saat Hanbin duduk tepat di samping kepalanya di kursi yang sama. Mereka bertukar pandang. “Fuck you!” Kemudian tertawa bersama.

Setelah agak lama, wajah Hanbin perlahan menjadi serius. “Hao, jujur. Lo baik-baik aja? Beneran gak papa?”

Zhang Hao menatapnya lagi, matanya menangkap ekspresi pria itu yang dipenuhi oleh kekhawatiran. “I'm okay bin, nanti juga enakkan.” Jawabnya.

Hanbin menghela nafas panjang.

This gentleman..” goda Hao. “Biasanya emang suka kayak gini?”

“Gimana?”

“Pagi-pagi sibuk ngecek partner ONS nya buat mastiin dia baik-baik aja, apalagi muka lo keliatan khawatir banget..? Awas nanti orang bisa salah paham, Iho...”

Hanbin menghela napas lagi. “Never. Gue gak pernah repot-repot kayak gini, tapi ini lo….. I don't know.” Dia ragu-ragu “Gue cuma mau mastiin semuanya baik-baik aja di antara kita.”

Zhang Hao menyentuh lengan Hanbin saat masih berbaring di kursi.

“Everything is alright.” Zhang Hao menepuk lengan Hanbin dan berkata, “Gue bisa ngatasinnya.”

Hanbin menatap Zhang Hao lekat-lekat dan perlahan menurunkan wajahnya sampai hanya berjarak beberapa senti dari wajah Zhang Hao.

“Kalau gitu jawab telepon dan balas chat gue, sial.”

Zhang Hao mencubit hidungnya. “Umm… Kenapa? Lo mau lagi?”

Dia menyeringai, “Boleh gak?”

Fuck off , kasih gue istirahat dulu bajingan!”

Hanbin tertawa dan menegakkan dirinya lagi. “Berarti abis ini boleh ya.”

“Brengsek.” Zhang Hao menutup matanya lagi dengan lengannya. “Gue mau tidur dulu sekarang, nanti ada kelas jam 3.”

“Oke.” Kata Hanbin. Tapi dia masih duduk di kursi.

Sambil menutup mata, telinga Hao menangkap suara-suara game.

Tidak lama sebuah suara dingin membuat Zhang Hao membuka matanya lagi. “Lo ngapain di sini?”

Itu Kim Jiwoong.

Jiwoong tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat.

Bukannya Hao tertidur di pangkuan Hanbin, tapi sebenarnya bagi dia sama saja karena sahabatnya berbaring tepat di tempat Hanbin duduk.

“Sejak kapan kalian se akrab ini?”

Zhang Hao duduk perlahan sementara Jiwoong masih berdiri di dekat meja.

Hanbin kembali menatap Jiwoong dan mengangkat bahunya, “Es latte Fakultas kedokteran enak.” Kata Hanbin.

Zhang Hao terkekeh.

Jiwoong memelototinya. Zhang Hao cekikikan? Ke Hanbin? Menurutnya itu bahkan tidak lucu sama sekali.

Hanbin mematikan game, mengunci ponselnya, dan berdiri. “Jawab telpon dan balas chat,” katanya kepada Zhang Hao yang hanya mengangguk dan tersenyum.

Tangannya mengusap rambut Zhang Hao pelan setelah itu dia pergi.

Gerakan kecil itu hampir membuat bola mata Jiwoong keluar dari tempatnya. Bahkan pemilik rambut menjadi tertegun.

Jiwoong sudah dekat dengan Hanbin sejak Kontes Duta Kampus tahun lalu, tetapi semuanya berubah sejak ada sesuatu antara dia, Hanbin, dan Matthew.

Tapi sekarang pria itu tiba-tiba berteman dengan Zhang Hao?

Apa yang dia inginkan?

Pikiran Jiwoong dipenuhi oleh berbagai macam skenario.

Zhang Hao menguap. Dia memasukkan buku besar ke dalam tasnya untuk kelas sore.

“Sejak kapan lo sedekat itu sama tu anak?”

Yang ditanya mengangkat bahu. “Gue udah bilang, gue minum-minum sama mahasiswa teknik tadi malam.” Dia bangun dari kursi.

“Ricky mana?”

Zhang Hao menggelengkan kepalanya. “Nggak tau. Kirain sama lo.”

Lalu mereka mendengar suara Ricky. “Sial... Gue telat kah...? Gue telat nggak?” Ricky berlari dari kejauhan.

“Zhang Hao anjing, kenapa lo gak ngebangunin gue???”

“Gue kira lo nginep di rumah Gyuvin.”

A Suprise


Sesampainya Zhang Hao di depan apartemen kekasihnya, dia duduk di bangku di depan pintu apartemen dan menaruh bunga yang ia beli dari toko sang sahabat, di samping kanannya. Sembari menunggu, ia berbicara sendiri.

Lebih tepatnya, memeragakan kemungkinan dialog yang akan terjalin ketika Jianyu melamarnya sehingga gadis itu tersipu sendiri oleh aktingnya. Ia bahkan berhasil mengeluarkan air mata saking terharunya. Tidak menyadari bahwa seseorang sedang menatapnya seolah-olah melihat sesuatu yang ajaib.

“Dasar gila!” Kedatangan suara mengejek ini membuat Zhang Hao terkejut.

“Ah!.. sialan.. lo ngagetin gue. ” pekik Zhang Hao menyadari keberadaan Hanbin. “Sung Hanbin..?”

“Ya.. ini gua, kenapa?” Hanbin menyahut dengan sinis.

“Kenapa lo kesini? Lo ngikutin gue? Terus sejak kapan lo ada disini?” Zhang Hao membombardirnya dengan rentetan pertanyaan.

“Bisa gak nanya nya satu-satu?”

“Ohh.. oke.” “Kenapa lo kesini?” Tanya Zhang Hao ulang.

“Karena ini apartemen gua.”

Zhang Hao mengalihkan pandangannya untuk melihat nomor apartemen. 118… Dia tidak salah.

“Lo jangan bercanda… ” Zhang Hao terheran-heran, jari nya menunjuk pintu apartemen yang ia pikir milik kekasihnya. “Gimana bisa lo nge klaim apartemen ini jadi milik lo?!”

“Gua gak punya waktu buat bercanda.” Timbal balik Hanbin. “Lagian harusnya gua yang nanya kenapa lo ada disini? Di depan pintu apartemen gua... ”

“Bukan urusan lo gue mau ngapain.” Ucap Zhang Hao sinis.

Detik kemudian, Hanbin menarik tangan Zhang Hao dengan cukup kasar, membuat pemuda itu memekik.

“Aww! Lo apa-apaan sih?!!”

“Ngegusur lo biar pergi.. ”

Hanbin berusaha menarik tangan Zhang Hao, namun Zhang Hao terus mempertahankan dirinya agar tak diusir oleh Hanbin. Dia harus bertahan demi bertemu dengan kekasihnya.

Tidak lama, pintu apartemen milik Hanbin terbuka dari dalam dan hal itu berhasil membuat Zhang Hao, yang memang duduk didepan pintu, terjatuh bersamaan dengan Hanbin yang menimpanya. Jarak antara dua wajah itu sangatlah dekat, jika Hanbin menunduk sedikit, kedua bibir mereka akan bertemu. Melihat wajah yang cantik halus dalam jarak sedekat itu, jantung Hanbin bergemuruh hebat.

“Hao…” seseorang memanggil dengan suara pelan.

Mengenal suara tersebut, Zhang Hao buru buru berusaha untuk menjauh dari Hanbin. Tapi, karena posisi dia berada dibawah, itu membuatnya agak kesulitan.

“Pssstt, lo mau kayak gini terus apa?” Bisik Zhang Hao, yang masih merasa gugup.

“Kenapa? Bukannya ini enak? Lo gugup, ya?” Bisik kembali Hanbin yang malah menggodanya.

“Ih.. cepetan bangun… ” pinta Zhang Hao.

Tanpa berlama lama, Hanbin pun bangkit dari tempatnya, dan diikuti oleh Zhang Hao.

“Ah.. Haha.. Kak Jianyu udah disini ternyata ” Zhang Hao tersenyum mencairkan suasana.

“Iya.. Aku buat kamu nunggu lama?” Tanya Jian Yu basa basi.

Zhang Hao buru-buru menggelengkan kepalanya, “Enggak kok.. Enggak juga.”

Hanbin yang melihat mereka pun, hanya bisa tersenyum sinis. Entah mengapa, dia merasa jijik melihat pasangan yang berkencan.

“Hao, dia siapa?” Keberadaan Hanbin, membuat Jianyu heran.

“Ohh.. dia bukan siapa-siapa.. ” ujar Zhang Hao terdengar tak peduli.

“Apa?!” Pekik Hanbin tak percaya.

“Oh iya, ada sesuatu yang mau aku omongin, Kak—” Belum menyelesaikan ucapannya, seseorang memotong perkataan Zhang Hao. Itu bukanlah Jianyu maupun Hanbin.

“Kakak.... ayo lanjutin mainnya~ ” nada centil terdengar bersamaan dengan kemunculan seorang gadis cantik yang penampilannya terlihat berantakan.

Apa? Berantakan?

“Kamu nggak bisa nunggu bentar?” Jianyu berkata pada gadis asing itu dengan memanjakan.

“Ihh... Kakak nyebelin deh..” Gadis itu membalas dengan senyuman di akhir.

Zhang Hao, bahkan Hanbin, sangat terkejut dengan pemandangan yang tengah mereka lihat saat ini. Tunggu.. apa yang sebenarnya terjadi? Hanbin, sebagai pemilik apartemen yang baru, merasa harga dirinya jatuh begitu saja melihat pasangan gila di hadapannya, “Hey.. kalian—”.

“Kalian sangat menjijikkan.” Perkataan Hanbin terpotong oleh emosi Zhang Hao yang meluap. “Kak Jianyu.. tolong jelasin, apa yang sebenarnya terjadi.. jelasin kalau pikiran ku saat ini salah.” Lanjutnya.

“Jadi kamu yang namanya Zhang Hao... ” sahut gadis tadi.

“Lo tahu ama gue?”

“Iyalah. Ah… Biar aku yang jelasin.” Jawabnya. “Kita udah pacaran dibelakang kamu selama setahun. Kamu gak sadar kalau Kak Jianyu cuma punya waktu sedikit buat kamu? Dia bahkan sering nolak kalau kamu minta jalan. Dan itu karena aku.” Jelasnya panjang lebar.

Zhang Hao yang mendengar hanya bisa menatap Jian Yu dan gadis itu secara bergantian. Tatapan antara merasa sakit, jijik, juga marah, bercampur menjadi satu. Ia mundur sebentar dan kembali setelah mengambil buket bunga yang dibawanya.

“Ahh.. iya.. bodoh banget gue gak nyadar apa yang udah kalian lakuin ke gue selama ini.. hahaha.. bodoh banget.” Ucap Zhang Hao dengan senyum liciknya.

Dan detik kemudian, Zhang Hao memukul Jian Yu kasar menggunakan buket bunganya. Tentu saja hal tersebut membuat Jian Yu juga gadis itu terkejut. Sedangkan Hanbin masih berdiri disana tanpa melakukan sesuatu.

“Makan ini!! Rasakan!! Lo emang laki-laki bajingan! Argh!!!” Ujar Zhang Hao yang terus memukul Jian Yu secara membabi-buta.

“Stop.. Berhenti!” Gadis itu mencoba menghentikan pergerakan Zhang Hao.

“Apa? Lo mau gue pukul juga?! Dasar lonte!!!” bentak Zhang Hao, dan kemudian juga memukul gadis tersebut.

Suasana diantara mereka berempat — sebenarnya minus Hanbin—menjadi ricuh karena kemarahan Zhang Hao.

Hanbin tetap diam, atau lebih tepatnya, membiarkan Zhang Hao melampiaskan semua amarahnya. Dalam sekelebat, sebuah memori kecil teringat di kepala Hanbin 7 tahun yang lalu, saat ia masih duduk di bangku SMA.

Zhang Hao masih memukuli Jianyu juga pacar gelapnya menggunakan buket bunga. Bahkan tanpa sadar, kelopak-kelopak bunga itu terus berjatuhan dan membuat ruang tamu apartemen Hanbin terlihat sangat berantakan.

Tersadar dari lamunannya, Hanbin yang sudah muak akhirnya menghentikan aksi Zhang Hao, menengahi mereka bertiga.

“Tenang… Tenangin diri kamu.. ” Suara lirih itu membuat Zhang Hao menjadi agak tenang.

Hanbin membalikkan tubuhnya, menghadap Jianyu dan kekasihnya lalu berkata. “Sekarang kalian bisa pergi.. Dan lo yang namanya Jianyu.. ”

“Gua? ” Jianyu menaikan alisnya sebelah.

“Bukannya lo udah jual apartemen ini ke gua? Kenapa lo masih pake?”

“Jadi lo orangnya?” Jianyu terkejut, ia yang sebelumnya duduk di sofa, bangkit lalu membungkukkan setengah badannya. “Sorry, gua minta maaf.. gue lupa kalau apartemen ini udah dijual.. tentang itu— ” belum sempat menyelesaikan ucapannya, Hanbin telah memotongnya.

“Selagi gua masih bicara baik-baik, mendingan lo keluar dari sini sekarang juga.” Hanbin mencoba menahan emosinya.

“Oke.. Oke.” Ucap Jianyu tegas, lalu segera menarik gadisnya dan pergi.

Suasana kembali diam setelah kepergian dua orang tadi. Hanbin menuntun Zhang Hao untuk duduk di sofanya, dan pemuda itu juga terlihat tak menolak.

“Tunggu, gua ke dapur dulu buat ambil air minum.”

Tidak memperhatikan Hanbin yang beranjak ke dapur, Zhang Hao sibuk dengan tatapan kosong-nya, terus memutar otak mengingat bagaimana dengan mudahnya Jianyu menunjukkan kemesraannya dengan gadis lain. Ia bahkan masih tak percaya dengan apa yang ia lihat tadi. Hari ini adalah Anniversary ke-4 mereka, namun bukanlah lamaran yang ia dapat melainkan amarah melihat sebuah perselingkuhan. Ini bukan mimpi. Kejutan itu nyata.

Sebuah tangan menyodorkan segelas air putih, membuyarkan lamunan kosonya namun Zhang Hao hanya bisa menatapnya tanpa menerima.

“Minum, buat diri lo agak tenang.” Ujar Hanbin.

Dengan terpaksa, Zhang Hao menerima dan meminumnya sampai tetes terakhir.

“Huh.. air putih gak bisa nenangin gue.” Ucap Zhang Hao setelahnya.

Pemuda itu bangkit dari tempatnya, lalu membungkukkan badan dan berpamitan. “Maaf atas kekacauan yang gue perbuat... ” setelahnya ia melambaikan tangan.

Namun sesaat ketika dia akan pergi, kerahnya ditarik oleh sang pemilik apartemen, hal itu membuat Zhang Hao menghentikan langkah nya.

“Ish.. apa lagi?” Zhang Hao merengut kesal.

“Kalau lo tau salah, kenapa lo pergi dari kekacauan yang lo lakuin?”

“Apa?! Ung… gua kira lo bakalan ngebiarin gue pergi soalnya lo tau gue lagi patah hati…”

“Iya, gua tahu. Tapi bukan berarti lo bisa lari gitu aja. Tidak!!” Hanbin memberikan penekanan pada kata ‘Tidak’. Detik kemudian, ia membalikkan tubuh Zhang Hao menghadap dirinya dan berkata dengan tegas, “Sekarang, bersihin semuanya. Sebersih mungkin!!”

Setelah itu, ia meninggalkan Zhang Hao sendiri menuju kamar tidurnya. Bahkan, Hanbin menutup pintu dengan cukup keras.

“Ck… dasar!!” Gumam Zhang Hao kesal, lalu ia memulai memunguti kelopak demi kelopak bunga.


Melihat Hanbin sudah duduk di meja makan, Zhang Hao sangat terkejut.

“Mas mau tinggal di sini mulai sekarang?” Zhang Hao bertanya pada Hanbin.

“Bibi Chen ada di sini, sulit baginya untuk bolak-balik antara dua tempat, dia bisa kembali ke Mansion Sung pada akhir pekan.”

Tatapan Zhang Hao tertuju pada Bibi Chen. Bukankah dia mengatakan bahwa Hanbin tidak pernah makan makanan yang dia buat?

Bibi Chen, yang tidak tahu bahwa dia digunakan sebagai alasan, berpikir bahwa Hanbin sangat menghargai dia, jadi dia berkata, “Tuan Hanbin, jika Anda mau, saya bisa pergi ke sana lebih awal dan memasak. makanan rumah utama dulu.”

Hanbin berhenti dan kemudian menjawab dengan keras, “Tidak perlu.”

Setelah makan malam, Zhang Hao, yang hendak kembali ke kamarnya untuk mengerjakan pekerjaan rumahnya, namun dihentikan oleh Hanbin.

“Pergilah ke ruang kerja ku.”

Ruang pribadi Hanbin di sini relatif kecil, dengan hanya satu meja. Hanbin membiarkan Zhang Hao duduk di sisi meja.

“Kamu bisa belajar di sini, jika kamu tidak mengerti, kamu bisa bertanya langsung padaku.”

”...Oke.”

Melihat pihak lain harus sibuk dengan pekerjaan ketika dia mengeluarkan laptop, Zhang Hao bertanya dengan sangat pengertian, “Mas gak bakalan keganggu kalau aku belajar disini? Gimana kalau aku belajar di ruang tamu aja, nanti kalau ada soal yang gak aku pahami baru aku nanya.”

Hanbin mengeluarkan sepasang kacamata emas dari laci, memakainya perlahan dan menoleh untuk menatapnya, seolah-olah dia bisa membaca niat pemuda itu untuk tidak ingin belajar di sini, dan tersenyum sambil berpikir, “Aku tidak merasa terganggu.”

Ini adalah pertama kalinya Zhang Hao melihat Hanbin memakai kacamata. Fitur wajah tiga dimensi digariskan oleh kacamata berbingkai emas. Wajah tampannya terlihat lebih halus dan tegas saat ini, menetralkan aura alpha. Jantung Zhang Hao seperti berhenti berdetak.

Setelah jeda singkat, Zhang Hao menundukkan kepalanya untuk menghindari mata Hanbin, tampaknya dia menyerah.

“Baiklah, kalau begitu aku akan mulai belajar.”

Di ruangan yang sunyi, satu orang sedang meninjau pekerjaan di laptopnya, dan yang lainnya sedang menulis pertanyaan, kombinasi ini terasa harmonis.

Ketika Zhanghao menemukan pertanyaan yang sulit baginya, dia akan menganalisis terlebih dahulu, kemudian menjawabnya jika dia tahu bagaimana caranya, dan menandainya jika dia masih belum mengerti.

Melihat semakin banyak pertanyaan yang ditandai, tatapan Zhang Hao beralih dari buku ke wajah Hanbin.

Hanbin, yang sedang melihat layar laptop, memperhatikan mata pemuda itu yang ragu-ragu dari ekor mata, menghentikan gerakannya, dia menopang dagunya dengan satu tangan, dan mengulurkan tangannya ke arah Zhang Hao dengan telapak tangan terbuka ke atas, “Yang mana yang tidak kamu mengerti? “

Melihat mata mereka bertemu, Zhang Hao merunduk dan menurunkan matanya, lalu mendorong buku, “Aku menandai pertanyaan-pertanyaan ini.”

Hanbin mengambil buku itu.

“Apakah kamu punya buku catatan?” Hanbin bertanya padanya.

“Ya.”

Dia tidak tahu apakah itu karena dia terbiasa dengan cara penjelasan Hanbin, atau karena berkah ketampanan, Zhang Hao merasa bahwa penjelasan Hanbin hari ini tidak membingungkan seperti kemarin. Mendapatkan beberapa arahan, Zhang Hao akhirnya memiliki pemahaman tentang bagaimana menyelesaikan soal.

Setelah mendengar ajaran dari Hanbin, Zhang Hao kembali ke kamarnya.


Sebenarnya, dia bisa menyewa guru privat yang baik untuk mengajar Zhanghao, tetapi Hanbin merasa bahwa dia seharusnya tidak memberi tahu lebih banyak orang tentang hasil seperti itu.

Bahkan jika bocah itu hanyalah pasangan kontrak, Hanbin tidak dapat menerima hasil tes semacam ini dari mitranya.

Dengan ujian yang begitu sederhana, siapa pun dapat dengan mudah mendapatkan nilai 80 atau 90 tanpa belajar, lagipula bukankah mudah untuk mendapatkan nilai 100? Bagaimana orang bisa mendapatkan skor rendah seperti itu?

Zhanghao tidak tahu bahwa dia terdaftar sebagai fokus utama pekerjaan seseorang. Begitu menerima jawaban afirmatif dari kesediaan Jeonghyeon untuk membantunya belajar, dia langsung merasa santai.

Setelah kelas usai, Zhanghao pulang ke apartemen milik Hanbin di sebelah sekolah. Menyelesaikan makan dan minum, dia mendengarkan kelas online matematika di YouTube di ruang belajar dan menunggu Jeonghyeon untuk mengajarinya.

Guru dalam video berbicara tentang Aljabar tingkat lanjut, tetapi Zhanghao merasa seperti sedang mendengarkan buku audio.

Seumur hidup, dia tidak pernah merasa otaknya begitu sulit untuk mencerna pengetahuan.

Apakah tubuh ini benar-benar tidak diciptakan untuk belajar?

Mendengar suara samar di luar pintu, dia menebak pasti Jeonghyeon datang untuk mengajarinya. Zhanghao segera membuka pintu dan menyambutnya di pintu masuk.

“Sekre...Mas Hanbin?”

Sekilas, Zhanghao melihat Hanbin yang memasang wajah serius, lalu Lee Jeonghyeon yang tersenyum ramah padanya.

“Aku akan menginap disini.” Hanbin menjelaskan.

Zhanghao memandang Hanbin, lalu berganti ke arah Jeonghyeon, dan mengangguk, “Oke!”

Apa yang bisa dia katakan? Hanbin adalah pemilik asli apartemen.

Hanbin pergi ke ruang kerja seperti biasa setelah memasuki pintu, Zhanghao dengan sadar mengeluarkan buku pelajarannya dan duduk di karpet ruang tamu.

“Sekretaris Lee, ayo belajar di sini.”

Jeonghyeon, “Oke.”

Zhanghao, “Ada terlalu banyak mata kuliah yang di UTS kan bulan ini. Kamu bisa membantuku meninjau mata kuliah mana yang bisa kulewati dengan nilaiku saat ini, aku akan berusaha untuk lulus.”

Jeonghyeon, “Oke, mari kita selesaikan sesuai dengan waktu ujian dan kesulitan kontennya, lalu saya akan memberi Anda rancangan keseluruhan, dan kami akan meninjaunya seiring berjalannya waktu.”

Zhanghao, “Oke. Omong-omong, apakah Anda sudah makan? Haruskah saya memasak semangkuk mie?”

Jeonghyeon menggeleng, “Tidak, terima kasih. Saya sudah makan di perusahaan.”

“Oh baiklah.”

...

Dia jarang tinggal di sini. Tidak ada dispenser termostatik yang biasa dia pakai di ruang belajarnya di Mansion Sung. Pada jam sekarang, Bibi Chen sudah kembali ke rumahnya, jadi Hanbin harus keluar dan menuangkan air untuk dirinya sendiri.

Di ruang tamu, Jeonghyeon menundukkan kepalanya untuk menjelaskan soal matematika kepada Zhanghao. Karena Zhanghao duduk di sisi lain, dia tidak dapat melihat gambaran keseluruhan yang dipaparkan oleh Jeonghyeon. Karenanya, Zhanghao mulai bergerak lebih dekat ke arah Jeonghyeon sehingga mereka berdua melihat sudut yang sama pada momok soal matematika saat Jeonghyeon meninjau pemecahan masalah langkah demi langkah.

Baik dia dan Jeonghyeon tenggelam dalam suasana penyelesaian masalah, jadi mereka tidak memperhatikan posisi mereka saat ini.

Oleh karena itu, begitu Hanbin keluar, dia melihat keduanya sangat dekat satu sama lain, kepala ke kepala seperti sedang berciuman.

Sang alpha Gemini itu mengerutkan kening, aroma rosin liar menyebar dengan angin dingin menusuk yang samar.

Jeonghyeon merasakan ancaman datang padanya, rambut di punggungnya berdiri tegak, dia menegakkan tubuh lalu menoleh dan melihat mata bosnya memiliki tatapan yang sulit dijelaskan.

Zhanghao tidak tahu apa yang sedang terjadi. Dia memperhatikan keanehan Jeonghyeon kemudian berbalik dan melihat Hanbin berdiri di sana. Dia juga melihat Hanbin sedang memegang gelas kosong di tangannya. Mengetahui bahwa dia keluar untuk mengambil air minum, dia berdiri dan mengambil gelas itu.

“Mas butuh air? Sini biar aku yang ambil.”

Zhanghao memasuki dapur. Menyisakan dua alpha di ruang tamu. Pelepasan feromon non-konvergen Hanbin memberi tekanan pada Jeonghyeon.

“Presdir Sung?” Jeonghyeon berkata dengan hati-hati. Terakhir kali dia melihat Bosnya terlihat sangat marah adalah ketika negosiasi yang sangat tidak memuaskan enam bulan yang lalu.

Menyadari bahwa dia tampaknya agak berlebihan, Hanbin menyingkirkan tekanan feromon dan berkata kepada Jeonghyeon, “Cukup untuk hari ini.”

Jeonghyeon, “Baik, kalau begitu saya akan pergi dulu.”

Ketika Zhanghao keluar, dia menemukan gurunya telah menghilang setelah dia pergi mengambil air.

“Mengapa Sekretaris Lee pergi?” Zhanghao bertanya sambil memegang gelas Hanbin.

Hanbin, “Ada masalah mendesak.”

Zhanghao mendekat dan menyerahkan gelas itu padanya.

“Oke, kalau begitu aku akan belajar sendiri.”

Hanbin mengambil gelas itu, tetapi tidak segera kembali ke ruang kerja nya.

Zhanghao duduk di atas karpet dan menunggu beberapa saat untuk menemukan bahwa tidak ada gerakan di belakang punggungnya. Ketika dia berbalik, dia melihat Hanbin masih berdiri dan berkata, “Ada apa?”

“Bulan depan, International Top 1 University of XXX Alumni Association akan mengundangku kembali ke kampus untuk melakukan sambutan,” kata Hanbin tiba-tiba.

“Oh!”

“Karena aku PhD termuda dan alumni terbaik di XXX.”

Zhanghao tercengang, dia benar-benar tidak mengetahui hal ini!

“Haruskah aku pergi denganmu?”

Hanbin, “Kalau kamu mau.”

Tiba-tiba, Zhanghao bereaksi, bukankah Hanbin adalah pilihan yang lebih baik daripada Jeonghyeon dalam pendidikan?

Zhanghao memandang Hanbin dengan kilau di matanya, “Mas free nggak sekarang? Ada beberapa pertanyaan yang gak aku pahami, kalau mas gak sibuk, aku mau minta tolong.”

Hanbin memasukkan tangannya ke dalam sakunya, menelan ludahnya, dan mencoba bersikap tenang, “Tentu.”


Setelah meninggalkan hotel, keduanya pulang ke Mansion Sung.

Zhanghao sebenarnya masih lapar. Hanbin sepertinya juga tidak punya waktu untuk makan di perjamuan. Ketika mereka sampai di rumah, Zhanghao berbalik untuk bertanya kepada Hanbin sebelum pria itu mulai berjalan ke atas, “Mas belum makan apa-apa, kan. Aku mau masak mie, mas gimana?”

Hanbin akhirnya menyadari apa yang dia lupakan saat dia membawa Zhanghao ke pesta hari ini.

“Kamu lapar? Aku akan meminta Jeonghyeon membawa sesuatu untuk dimakan.”

“Nggak perlu, aku bisa masak sendiri, mas mau makan bareng?”

Zhanghao memintanya karena kesopanan, tetapi di telinga Hanbin, terdengar Zhanghao ingin dia tetap makan malam bersama.

“Tentu.” Hanbin duduk di ruang makan dengan sangat sadar, menunggu Zhanghao memasak mie.

Melihat ini, Zhanghao menggosok hidungnya yang tidak gatal dan pergi ke dapur sendirian.

Mie telur yang sama, semuanya siap dalam waktu kurang dari lima belas menit.

Hanbin melihat sup bening di mangkuk sebentar, lalu mengulurkan sumpitnya setelah jeda.

Di bawah cahaya, keduanya tampak seperti keluarga sungguhan, makan di ruang makan yang sama di bawah atap yang sama dan di meja yang sama.

Berduaan pada malam hari seperti ini, mengingatkan Hanbin pada feromon omega yang dia cium malam itu.

Dia telah memastikan bahwa Zhanghao bukanlah seorang omega, jadi hanya ada satu kemungkinan yang tersisa...

Zhanghao pasti menggunakan sesuatu yang mengandung feromon omega di kamar malam itu.

“Apakah kamu tahu kenapa aku hanya ingin menikah dengan beta?” Hanbin bertanya tiba-tiba.

Zhanghao mengangkat matanya, “Kenapa?”

“Aku tidak suka bau feromon omega.” kata Hanbin.

Jadi, jangan gunakan parfum, gel mandi, sampo yang mengandung feromon omega yang menarik perhatian alpha...

“Oh.”

Zhanghao sama sekali tidak tahu konteks Hanbin membicarakan ini. Tetapi dia tahu sesuatu.

Didalam novel disebutkan secara singkat alasan mengapa Hanbin tidak menyukai feromon omega.

Karena keunggulannya sendiri dan latar belakang Keluarga Sung, Hanbin telah bertemu omega yang tak terhitung jumlahnya sejak ia berdiferensiasi menjadi alpha. Dilecehkan secara seksual oleh berbagai feromon manis setiap hari, Hanbin tidak merendahkan dirinya atau jatuh ke dalam perangkap yang dipasang oleh sekelompok omega yang menggodanya. Sebaliknya, dia menderita Omegafobia ringan. Dia tidak akan mendapatkan gairah atau hasrat seksual oleh feromon omega, justru dia akan merasa jijik secara fisiologis.

Tentu saja, Hanbin tidak akan menyebutkan Omegaphobia ringannya kepada siapapun, jadi dia hanya menunjukkan bahwa dia tidak tertarik pada Omega kepada orang lain.

“Aku gak tahu kalau gak dikasih tahu sama mas barusan,” Zhanghao membuka matanya dan berkata dengan acuh tak acuh.

Hanbin mengira bocah itu mengerti maksud yang mendasarinya, dan meletakkan sumpitnya setelah menyesap sup terakhirnya, “Belum terlambat untuk mengetahuinya sekarang. Aku sudah selesai, aku akan naik dulu.”

Zhanghao mengangguk, “Oke, selamat malam.”

Hanbin bangun, dan setelah dua langkah, dia tiba-tiba teringat dan berkata, “... Jangan begadang.”

Zhanghao, yang sedang membersihkan piring, terkejut saat mendengar kalimat ini. Dia menengok ke belakang hanya untuk mendapati bahwa Hanbin sudah naik ke atas.

Setelah meninggalkan hotel, keduanya pulang ke Mansion Sung.

Zhanghao sebenarnya masih lapar. Hanbin sepertinya juga tidak punya waktu untuk makan di perjamuan. Ketika mereka sampai di rumah, Zhanghao berbalik untuk bertanya kepada Hanbin sebelum pria itu mulai berjalan ke atas, “Mas belum makan apa-apa, kan. Aku mau masak mie, mas gimana?”

Hanbin akhirnya menyadari apa yang dia lupakan saat dia membawa Zhanghao ke pesta hari ini.

“Kamu lapar? Aku akan meminta Jeonghyeon membawa sesuatu untuk dimakan.”

“Nggak perlu, aku bisa masak sendiri, mas mau makan bareng?”

Zhanghao memintanya karena kesopanan, tetapi di telinga Hanbin, terdengar Zhanghao ingin dia tetap makan malam bersama.

“Tentu.” Hanbin duduk di ruang makan dengan sangat sadar, menunggu Zhanghao memasak mie.

Melihat ini, Zhanghao menggosok hidungnya yang tidak gatal dan pergi ke dapur sendirian.

Mie telur yang sama, semuanya siap dalam waktu kurang dari lima belas menit.

Hanbin melihat sup bening di mangkuk sebentar, lalu mengulurkan sumpitnya setelah jeda.

Di bawah cahaya, keduanya tampak seperti keluarga sungguhan, makan di ruang makan yang sama di bawah atap yang sama dan di meja yang sama.

Berduaan pada malam hari seperti ini, mengingatkan Hanbin pada feromon omega yang dia cium malam itu.

Dia telah memastikan bahwa Zhanghao bukanlah seorang omega, jadi hanya ada satu kemungkinan yang tersisa...

Zhanghao pasti menggunakan sesuatu yang mengandung feromon omega di kamar malam itu.

“Apakah kamu tahu kenapa aku hanya ingin menikah dengan beta?” Hanbin bertanya tiba-tiba.

Zhanghao mengangkat matanya, “Kenapa?”

“Aku tidak suka bau feromon omega.” kata Hanbin.

Jadi, jangan gunakan parfum, gel mandi, sampo yang mengandung feromon omega yang menarik perhatian alpha...

“Oh.”

Zhanghao sama sekali tidak tahu konteks Hanbin membicarakan ini. Tetapi dia tahu sesuatu.

Didalam novel disebutkan secara singkat alasan mengapa Hanbin tidak menyukai feromon omega.

Karena keunggulannya sendiri dan latar belakang Keluarga Sung, Hanbin telah bertemu omega yang tak terhitung jumlahnya sejak ia berdiferensiasi menjadi alpha. Dilecehkan secara seksual oleh berbagai feromon manis setiap hari, Hanbin tidak merendahkan dirinya atau jatuh ke dalam perangkap yang dipasang oleh sekelompok omega yang menggodanya. Sebaliknya, dia menderita Omegafobia ringan. Dia tidak akan mendapatkan gairah atau hasrat seksual oleh feromon omega, justru dia akan merasa jijik secara fisiologis.

Tentu saja, Hanbin tidak akan menyebutkan Omegaphobia ringannya kepada siapapun, jadi dia hanya menunjukkan bahwa dia tidak tertarik pada Omega kepada orang lain.

“Aku gak tahu kalau gak dikasih tahu sama mas barusan,” Zhanghao membuka matanya dan berkata dengan acuh tak acuh.

Hanbin mengira bocah itu mengerti maksud yang mendasarinya, dan meletakkan sumpitnya setelah menyesap sup terakhirnya, “Belum terlambat untuk mengetahuinya sekarang. Aku sudah selesai, aku akan naik dulu.”

Zhanghao mengangguk, “Oke, selamat malam.”

Hanbin bangun, dan setelah dua langkah, dia tiba-tiba teringat dan berkata, “... Jangan begadang.”

Zhanghao, yang sedang membersihkan piring, terkejut saat mendengar kalimat ini. Dia menengok ke belakang hanya untuk mendapati bahwa Hanbin sudah naik ke atas.

#Hari Berikutnya


Keesokan harinya di sore hari, Zhanghao akhirnya terbangun, fragmen memori muncul dikepalanya, tidak tahu apakah ingatan itu adalah mimpi basah atau mimpi buruk yang disebabkan oleh heat nya.

Dia lemah dan sakit dari ujung kepala sampai ujung kaki. Lelah, dia perlahan membuka matanya sedikit demi sedikit, sampai dia melihat Hanbin menatapnya dengan ekspresi gugup dan ketakutan.

“Marahi aku ......”

Ekspresi Hanbin penuh penyesalan. Dia dengan hati-hati dan lembut membantunya bangun dan memberinya tegukan kecil dari segelas air. Setelah memastikan tenggorokannya tidak sakit, dia mengambil bantal lain untuk membantu Zhanghao beristirahat dengan nyaman.

Melihat mata omega-nya yang merah dan bengkak, hati Hanbin sangat sakit hingga matanya sendiri memerah.

Dia bangun pagi-pagi dan menemukan Zhanghao meringkuk seperti panda kecil, menyembunyikan wajahnya dengan sedih di lengannya sendiri, tampak seolah-olah dia telah disiksa dengan kejam. Tidak ada sepetak pun kulit yang bersih dan utuh, setiap bagian ditutupi dengan tanda ungu dan merah, lubangnya bengkak dan bahkan masih bocor, tempat tidur mereka pun benar-benar basah dan benar-benar rusak.

Selain itu, bagian dalam rumah besar mereka tampak seperti pencuri dan badai telah menyapu, sangat berantakan dengan bercak basah yang tidak diketahui di seluruh lantai.

Ingatannya tentang malam sebelumnya berangsur-angsur kembali, sampai akhirnya dia menyadari bahwa bencana besar adalah dirinya sendiri.

“Aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi denganku kemarin…… Maafkan aku.” Dia takut dengan tindakan kejamnya sendiri, tentang bagaimana dia rela memperlakukan omeganya sendiri sedemikian rupa, “Aku berjanji ada diriku sendiri bahwa aku tidak akan pernah membiarkanmu terluka, tapi sekarang aku orang yang menyakitimu sedemikian rupa ...... aku tahu sudah terlambat untuk mengatakan apapun, tapi aku masih ingin mencoba ...... kamu bisa melarangku untuk tidak menyentuhmu selama sisa hidup kita, tapi jangan ceraikan aku, oke? Aku mohon padamu, tolong …… ”

Zhanghao mendengarkan saat dia memohon dan terisak dan menelan kembali kutukan keras yang akan dia lontarkan ke Hanbin.

Hanbin terkadang memperlihatkan ekspresi sedih, tapi baginya untuk benar-benar menangis seperti ini dengan mata merah, dia baru melihatnya sekarang.

Siapa yang tega mengutuk bayi alpha sebesar ini?

Terlebih lagi, dialah yang memberinya obat, jadi tidak peduli berapa banyak Hanbin telah menggertaknya, dia tidak bisa menyalahkan Hanbin.

Ini namanya “kamu menuai apa yang telah kamu tanam”.

Zhanghao hanya bisa mengertakkan gigi dan menelan amarahnya, “Tidak apa-apa ...... Kadang-kadang, menyenangkan juga untuk bersenang-senang dengan permainan seperti ini ......”

Ketika Hanbin mendengar ini, matanya menjadi lebih merah, banjir dengan air mata, dan dia sangat tersentuh hingga jatuh berantakan. Dia jelas memperlakukannya sedemikian rupa, tetapi omega-nya masih sangat perhatian dan toleran.

Dia langsung tersedak, “Kamu sangat mencintaiku, tapi aku sudah memperlakukanmu seperti itu…… Aku benar-benar keterlaluan. Pukul aku atau marahi aku, itu semua salahku…… aku tidak akan pernah berbuat seperti kemarin lagi, aku bersumpah……”

“……” Pengakuan dosa yang menyayat hati ini membuat Zhanghao merasa sangat menyesal, ia menghela nafas panjang.

“Hanbin.”

Hanbin, dipanggil dengan nama pribadinya, langsung duduk tegak dan diam, sangat gugup.

“Aku diam-diam memberimu suplemen peningkatan alpha, jadi kamu memperlakukanku seperti itu adalah kesalahanku, jangan salahkan dirimu sendiri.”

Hanbin tercengang.

“…..jadi……” Dia berjuang untuk memproses arti dari kalimat ini, berkata dengan tidak percaya, “Apakah aku…..tidak bisa memuaskanmu?”

Ini adalah pukulan telak bagi harga diri seorang alpha.

Zhanghao dengan cepat menghentikan imajinasinya yang liar, “Tentu saja tidak.”

“……” Bulu mata Hanbin terkulai oleh air mata dan dia terisak saat dia berkata, “Jadi ternyata selama ini reaksimu di tempat tidur hanya untuk menghiburku……”

Kepala Zhanghao mulai sakit, “Maksudku pasti tidak ada ketidakpuasan! Aku sudah puas! Sangat puas!”

“Lalu kenapa kamu memberiku obat ......”

“Aku—”

Zhanghao baru saja mengeluarkan sepatah kata sebelum Hanbin tiba-tiba mendongak, “Oh ya! Minum obat! Aku akan mengambilkannya untukmu–”

“Tunggu sebentar!” Zhanghao berteriak untuk menghentikannya, tenggorokannya masih serak, “Jangan mengambilnya, aku tidak mau meminumnya.”

Hanbin kembali dan duduk di sisi tempat tidur untuk menenangkannya, “Setelah 24 jam, tidak akan ada efeknya. Aku tahu bahwa apa pun penyebabnya, aku tetap melakukan kesalahan…..... tapi saat ini, kesehatanmu adalah yang paling penting. Setelah kamu minum obat, kamu bisa menghukum dan memarahi ku lagi, oke?”

“Nggak oke.” Zhanghao dengan tegas menolak.

“Sayang, kalau kamu nggak minum sekarang, kamu akan——”

Dia berhenti di tengah kalimatnya karena dia akhirnya menyadari senyum di wajah omega-nya.

“Apa yang akan terjadi, bisakah kamu mengatakannya?”

Hati Hanbin perlahan naik, seolah-olah dia telah meramalkan sesuatu, dan suaranya sangat terkejut, “Kamu akan hamil ...... Maksudmu kamu ingin ......”

“Kamu terlalu meremehkanku.” Senyum Zhanghao mengungkapkan suasana arogansi yang mengungkapkan bagaimana dia tidak pernah mengaku kalah. “Kamu pikir aku terlihat seperti takut sakit? Tidak peduli seberapa menyakitkan itu, aku berjanji, aku tidak akan pernah menangis.”

“B-bagaimana kamu tahu ......”

“Tanyakan pada orang yang iri melihat Kakak iparnya menggendong bayi.”

Hanbin tiba-tiba memerah, “Aku berbicara omong kosong ...... Jangan dimasukkan ke dalam hati.”

Zhanghao mendengus, “Sayangnya, aku dengan keras kepala mengingatnya dan, lebih dari itu, aku adalah pria yang menyimpan dendam. Meskipun tadi malam adalah salahku, kamu memang menggertakku sampai menangis, jadi aku pasti akan membalas dendam.”

Hanbin membeku, “Balas dendam dengan cara apa apa ......”

Zhanghao berjuang keras untuk mengangkat tangannya, lalu mengusap rambut alphanya yang acak-acakan, dan menatap langsung ke mata coklat kehijauan yang menawan itu, “Karena aku tidak bisa menanganimu sendirian, tentu saja aku perlu mencari bantuan. Tunggu saja nanti kamu akan dibully oleh dua bayi kecilmu.”

Hanbin menatap kembali ke mata hitam cerah di hadapannya dengan linglung.

Zhanghao mungkin tidak akan pernah tahu, mungkin dia tidak menyadari tapi, saat ini, dengan sedikit lemak bayi masih di wajahnya, dia memberikan senyuman yang begitu indah dan manis, sama sekali tidak terlihat garang atau bermartabat, seolah-olah dia adalah bintang gemerlap milik Hanbin yang jatuh ke bumi. Zhanghao ingin menyembunyikan dirinya agar tidak pernah ditemukan, tetapi kemudian dia maju untuk menceritakan kisah tentang cahaya cemerlang yang datang dari bintang-bintang di langit.

Pada saat ini, bayi Hanbin, yang tidak menyadari kelucuannya, percaya bahwa dia benar-benar bermartabat. Dia mengacungkan tinjunya yang lemah, kecil, dan terkepal dan juga menepuk perutnya, menggertak sambil berkata, “Apakah kamu takut? Sudah terlambat untuk meminta belas kasihan sekarang, calon anak kita yang siap membantuku untuk balas dendam sudah ada di sini.”

Sebuah riak mengalir melalui kolam yang dalam di hati Hanbin dan dia menundukkan kepalanya untuk mencium mata bahagia itu, lalu berbisik dengan hangat di telinganya, “Ya, aku khawatir, aku khawatir kamu akan memberikan sebagian dari cintamu kepada bayi kecil di masa depan dan tidak akan terlalu mencintaiku, tapi aku akan tetap sangat mencintaimu, apa yang harus aku lakukan……”

“……jangan bicara omong kosong, aku tidak akan.” Ekspresi cinta yang langka dan blak-blakan dari alpha-nya membuat telinga Zhanghao memanas. Dia mengulurkan tangan untuk menyenggolnya, tetapi karena kurangnya kekuatan, itu lebih seperti pukulan penuh gairah ke dadanya.

Hanbin tersenyum, lalu meraih tangannya dan mencium bibirnya. Dia mengangkat matanya untuk menatapnya dan bertanya dengan lembut, “Bukankah begitu?”

Zhanghao menjadi lemah karena tatapan dan nada lembut itu, dan panas di dalam tubuhnya mulai bergolak sekali lagi, tetapi bagaimana dia bisa dikalahkan di sini? Dia langsung tersenyum provokatif.

“Don’t be too proud of yourself, my big baby.”

Dia mengangkat kepalanya untuk menggigit bibir Hanbin, sama agresif dan sombongnya seperti ketika dia pertama kali menawarkan dirinya untuk dicium.

“Wait and see, my love for you…..is no less than yours for me!”

out of control 2

Adegan NSFW sangat porno


Pada pukul dua dini hari, daerah pemukiman sepi dan sunyi, tetapi jika kamu mendengarkan dengan cermat, kamu akan dapat mendengar beberapa suara aneh yang tidak jelas dari vila tertentu dengan tirai transparan.

“Jangan…..mmm ahh…..udah…”

Salah satu kaki Zhanghao diangkat tinggi melewati bahu Hanbin, kaki lainnya dijepit dengan kuat. Dia tidak bisa berlari bahkan setengah inci dan meluncur ke sisi tempat tidur berulang kali. Kepalanya hampir mencapai lantai, tapi kemudian Hanbin menariknya kembali, tangan satunya disibukkan dengan menguleni bokong Zhanghao yang sintal sesuka hatinya. Penis panjang dan tebal di dalam tubuh Zhanghao berada di ronde ketiga, tapi dia masih mendorong dengan sekuat tenaga seperti sebelumnya.

Zhanghao digantung terbalik, wajahnya memerah secara tidak wajar karena aliran darah. Seluruh tubuhnya disiksa oleh heat yang membuncah, tetapi bagian yang paling panas adalah perutnya, bergoyang dengan setiap dorongan dari Hanbin, yang telah diisi oleh sperma Hanbin sampai penuh.

Sejak awal, kewarasan Hanbin benar-benar dirampok oleh efek obat dan sama sekali tidak bertingkah seperti dirinya yang normal, lembut, tenang, tetapi dengan keras menusuk ke dalam dirinya berulang kali, seolah dia mencoba untuk menembus kedalaman.

Posisinya sangat tidak nyaman sehingga Zhanghao dengan marah bergerak untuk meraih tangan yang mencengkeram pantatnya sendiri, “Lepaskan......oh mmmm......jangan sentuh aku......”

Dia hanya ingin Hanbin mengesampingkan kekhawatirannya tentang sakit melahirkan dan menikmati dirinya sepenuhnya untuk sekali ini, tetapi dia tidak menyangka bahwa dia sendiri akan berakhir dengan cara yang begitu menyedihkan. Menurut rencananya, dominasi seharusnya ada di tangan dia, jadi bagaimana dia bisa jatuh ke peran pasif seperti ini?

Zhanghao ingin melepaskan tangan yang menahannya, tetapi Hanbin dengan kejam menekan tangannya yang melambai dengan liar dan menyeretnya ke pelukannya. Dia menyandarkan dirinya ke sandaran kepala tempat tidur.

Plakk

Hanbin memukul pantatnya dengan keras.

“Ouch!” Zhanghao langsung merasakan rasa sakit yang begitu mengejutkan hingga air mata mengalir di matanya, tetapi tangannya terjepit di punggungnya sendiri, jadi dia tidak bisa membalas pria di depannya.

Tatapan Hanbin gelap dan bergejolak, membuat jantungnya berdebar kencang. Dia mengangkat tangannya lagi dan tamparan yang keras dan jelas terdengar, pipi pantatnya yang pucat langsung memerah tercetak bentuk lima jari.

Zhanghao tidak pernah diintimidasi begitu kejam saat bercinta di tempat tidur. Dia berserapah dengan marah, “Kamu keparat ...... beraninya memukulku lagi ...... brengsek ......”

Hanbin benar-benar diam, pupil matanya begitu gelap hingga tampak tak berdasar. Tangannya yang besar terjepit erat di pinggangnya dan dia mendorong ke atas dengan keras, menusuk langsung ke titik terdalamnya, sementara pada saat yang sama dia melayangkan pukulan lain.

Napas Zhanghao tercekat di dadanya dan, bahkan sebelum dia bisa terkesiap, pinggangnya yang dicengkeram dibanting dengan kejam sehingga dia ditembus lebih dalam. Tubuhnya terus-menerus dilempar ke atas dan ke bawah dan pantatnya dipukul dari satu sisi ke sisi lain berulang kali.

Dia menggigit bibirnya dengan keras sehingga permohonan belas kasihan di balik giginya tidak bisa lepas, sampai bibirnya memutih karena gigitan dan meneteskan keringat, tetapi Hanbin, yang sudah gila, tidak bisa merasa kasihan untuk Zhanghao saat ini. Ketika penis yang kaku mencapai titik terdalamnya, benda itu secara penuh mengisi saluran sensitif Zhanghao, sampai cum nya yang sudah dikeluarkan jauh ke dalam bercampur dengan cairan omega-nya sendiri dan mulai bocor, sampai tempat di mana mereka terhubung menjadi lengket dan basah karena cairan.

Zhanghao gemetar dari ujung kepala sampai ujung kaki, kakinya berulang kali bergetar, matanya berkaca-kaca dan pandangannya tidak fokus. Dia mengeluarkan erangan lembut beberapa menit kemudian, semburan tipis datang menetes dari kemaluannya, saat Hanbin masuk ke dalam dirinya untuk keempat kalinya malam itu.

Bahkan dalam kondisi heat biasa (tanpa obat) seks terus menerus yang intens seperti ini sudah cukup untuk membuat omega manapun runtuh.

“Nggak mau lagi...Aku bener-bener gak kuat…..Mas….lepasin aku……”

Benar-benar tak berdaya, dia berbaring bersujud di dadanya yang panas dan berkeringat. Saat ini Hanbin berada di bawah kendali penuh dari nafsunya, jadi Zhanghao tidak punya pilihan selain memohon dengan lembut, berharap untuk membangkitkan sedikit kasih sayang lembut suaminya.

Cara ini rupanya berhasil. Hanbin menghentikan gerakan pinggulnya, lalu mencengkeram dagunya, memaksanya mengangkat kepala untuk dicium. Lidah mereka kusut bersama lengket dan bibirnya tersedot sampai membengkak.

Saat mereka berciuman, Zhanghao tiba-tiba merasakan tangan Hanbin menelusuri garis tulang punggungnya, membuatnya gemetar merinding.

Pantatnya baru saja dipukul merah, jadi terasa sakit dan kesemutan, sedikit gemetar saat disentuh, tetapi tangan besar Hanbin menutupi pipinya dan meremas dengan kuat, meremas dan memutar dagingnya.

“Mmm ...... jangan ......” Mulut Zhanghao kemudian diblokir sehingga protesnya tidak bisa didengar. Semua kekuatan di tubuhnya habis, hungga dia bahkan tidak bisa mengangkat tangan.

Gesekan penis dengan dinding bagian dalamnya begitu jelas dan panas. Tubuh Zhanghao menegang ketika dia tersentak. Wajahnya memerah padam saat dia menahan napas dan air mata dari matanya yang basah bergetar seolah hendak jatuh.

Tamatlah riwayatku…… permainan alphaku yang sesungguhnya baru saja dimulai, aku benar-benar akan dipermainkan sampai mati……

Dia membuat upaya terakhir untuk berjuang, memohon, “Mas… kalau gini aku bisa mati…… udah ya please…… aku mohon ……”

Sayangnya, permintaannya sia-sia.

Dia dibaringkan sekali lagi di tempat tidur yang lembab. Dia mencengkeram erat seprai yang telah lama kusut saat kakinya terlipat di dadanya dan dia terpaksa menahan tusukan keras lainnya.

“Oh mmm ...... ah ahh ah ...... bajingan ...... hiks”

Air matanya yang menggantung akhirnya jatuh. Zhanghao, yang tidak pernah menangis sejak dia berusia delapan tahun, mengerang dan menangis hebat terlepas dari reputasinya. Hanbin, yang kehilangan akal sehat, tidak mengatakan sepatah kata pun, hanya fokus mengerahkan seluruh kekuatannya untuk bercinta, mengeluarkan napas panas saat dia terengah-engah, tatapannya yang dalam tertuju pada Zhanghao seperti serigala lapar yang menikmati mangsanya yang lezat.

Heat omega ditekan oleh feromon alfa yang saat ini terlalu kuat dan menakutkan, tidak berani untuk tak terkendali dan dengan patuh menyerah, membiarkan feromon alfa mengamuk dan mendatangkan malapetaka di dalam.

Zhanghao dibalik dan ditekan ke tempat tidur sehingga pergumulan bisa berlanjut. Setiap tusukan yang datang ke pantatnya sangat sulit untuk ditanggung. Dengan sedikit energi terakhirnya, dia berjuang untuk merangkak ke depan sambil menangis, tetapi Hanbin mencengkeram pergelangan kakinya dan menyeretnya ke belakang dengan mudah. Pinggulnya dengan garang mendorong ke depan dan, sekali lagi, memenuhi dirinya hingga penuh.

“Mmm…..Aku benci——mmph…..”

Sebuah tangan besar menahan mulutnya dan kata-kata itu diblokir kembali ke tenggorokannya. Air matanya tumpah ke tangan Hanbin.

Ketika semburan panas yang banyak masuk ke dalam rahimnya, Zhanghao menangis sampai matanya membengkak, tubuhnya tersentak berulang kali. Tidak sedikit pun dari tubuhnya yang tidak menjadi merah, paha bagian dalam dan dadanya telah digigit dan dihisap dengan cupang yang tak terhitung jumlahnya – dia tampak seperti telah dipermainkan sampai mati.

Karena penggunaan tenggorokannya yang berlebihan dan kehilangan banyak cairan, dia sekarang sangat dehidrasi sehingga dia hanya bisa memeras beberapa kata dari tenggorokannya, “Haus......”

Hanbin menatap omega yang cantik dan menggoda yang membuatnya gila dan menarik napas dalam-dalam. Udara masih dipenuhi dengan feromon kaya dan manis. Dia akhirnya mengeluarkan kemaluannya yang sudah lama dimasukkan, masih sekeras batu, dan dengan santai membersihkannya. Lalu dia menunjuk ke arah Zhanghao.

Mata Zhanghao membelalak tak percaya.

Sebelum dia bisa menyelesaikan umpatan “fuck o-”, rahangnya dicengkeram dengan kuat dan penis yang panjang dan tebal dimasukkan, menghalangi semua kata-katanya.

Bagian dalam mulutnya yang kering hampir terbakar karena gesekan. Penis itu menekan ke dalam tenggorokannya, begitu dalam sehingga dia hampir tersedak, tetapi dia tidak bisa meludahkannya dan hanya bisa membuka mulutnya selebar mungkin.

Tanpa belas kasihan sedikit pun, Hanbin cum di mulutnya, menggunakan spermanya sendiri untuk menghilangkan rasa hausnya. Zhanghao sangat marah sehingga dia ingin melontarkan serangkaian kutukan, tetapi mulutnya penuh rasa lengket. Setelah dia selesai meludahkan cairan Hanbin dari mulutnya, Hanbin menariknya dari tempat tidur dan menciumnya dengan ganas.

Sperma dari lubang Zhanghao mulai menetes dalam posisi ini, tetapi dia kelelahan, jadi dia tidak memiliki kekuatan untuk melawan meskipun dia malu dan hanya bisa membiarkan bibirnya tersedot hingga mati rasa. Penis Hanbin yang panas dan tebal sekali lagi masuk ke dalam dan lubangnya yang basah berkedut dan terkepal tanpa sadar, seolah-olah memohon agar kejantanan yang ganas dan tanpa ampun itu tetap berada di dalam.

Hanbin tidak pernah begitu ganas di tempat tidur, namun saat ini ia tampak seolah-olah sudah gila, mendorong dengan kekuatan lebih dari sebelumnya, membuat suara peraduan kulit yang tak henti-hentinya keluar. Zhanghao sangat kacau sehingga kesadarannya berangsur-angsur memudar, air liur terus menerus keluar dari mulutnya, air mata menutupi seluruh wajahnya, saat dia terengah-engah karena tangisannya.

Dia benar-benar ketakutan, takut disetubuhi sampai mati, jadi dia terus menangis memohon belas kasihan, “Han-Hanbin......jangan......mmm ahh.....Mas.......Mas Hanbin......aku sekarat......”

Namun, Hanbin benar-benar mengabaikan air mata, mata merah, dan kondisi mental Zhanghao yang hancur, ia melemparkan omeganya ke tempat tidur sekali lagi. Saat seluruh tubuh Zhanghao gemetar karena feromon yang menakutkan, Hanbin menjepit tangan dan kakinya. Kemudian dia menundukkan kepalanya dan membuka mulutnya, giginya yang tajam menggigit kelenjar omega di sisi lehernya.

Pada malam ini, Zhanghao menyadari betapa lembut dan perhatiannya Hanbin (mode normal) di tempat tidur.

Setelah itu, dia tidak dapat menghitung jumlah ronde yang dihabiskan. Dia hanya samar-samar ingat bahwa dia sangat dehidrasi sehingga dia bahkan tidak bisa menangis lagi. Dia terisak-isak dan memohon untuk waktu yang lama, sampai akhirnya Hanbin membawanya ke dapur. Dia memberinya air dengan mulutnya sendiri, lalu menekannya untuk bercinta di dekat wastafel, lalu pergi dari dapur untuk bercinta di ruang makan, lalu pergi dari ruang makan untuk bercinta di ruang ganti mereka.

Di ruang ganti, Zhanghao dibawa ke depan cermin dan kemudian diikat untuk berlutut di lantai, jadi dia harus menyaksikan dirinya disetubuhi dalam jarak satu inci dengan kedua matanya, dipermalukan oleh Hanbin. Dia tidak tahan dengan siksaan dan akhirnya pingsan, lalu disetubuhi lagi ketika dia bangun, disetubuhi sampai dia pingsan sekali lagi.

Berulang kali, selama enam jam penuh.

out of control 2 > Adegan NSFW sangat porno


Pada pukul dua dini hari, daerah pemukiman sepi dan sunyi, tetapi jika kamu mendengarkan dengan cermat, kamu akan dapat mendengar beberapa suara aneh yang tidak jelas dari vila tertentu dengan tirai transparan.

“Jangan…..mmm ahh…..udah…”

Salah satu kaki Zhanghao diangkat tinggi melewati bahu Hanbin, kaki lainnya dijepit dengan kuat. Dia tidak bisa berlari bahkan setengah inci dan meluncur ke sisi tempat tidur berulang kali. Kepalanya hampir mencapai lantai, tapi kemudian Hanbin menariknya kembali, tangan satunya disibukkan dengan menguleni bokong Zhanghao yang sintal sesuka hatinya. Penis panjang dan tebal di dalam tubuh Zhanghao berada di ronde ketiga, tapi dia masih mendorong dengan sekuat tenaga seperti sebelumnya.

Zhanghao digantung terbalik, wajahnya memerah secara tidak wajar karena aliran darah. Seluruh tubuhnya disiksa oleh heat yang membuncah, tetapi bagian yang paling panas adalah perutnya, bergoyang dengan setiap dorongan dari Hanbin, yang telah diisi oleh sperma Hanbin sampai penuh.

Sejak awal, kewarasan Hanbin benar-benar dirampok oleh efek obat dan sama sekali tidak bertingkah seperti dirinya yang normal, lembut, tenang, tetapi dengan keras menusuk ke dalam dirinya berulang kali, seolah dia mencoba untuk menembus kedalaman.

Posisinya sangat tidak nyaman sehingga Zhanghao dengan marah bergerak untuk meraih tangan yang mencengkeram pantatnya sendiri, “Lepaskan......oh mmmm......jangan sentuh aku......”

Dia hanya ingin Hanbin mengesampingkan kekhawatirannya tentang sakit melahirkan dan menikmati dirinya sepenuhnya untuk sekali ini, tetapi dia tidak menyangka bahwa dia sendiri akan berakhir dengan cara yang begitu menyedihkan. Menurut rencananya, dominasi seharusnya ada di tangan dia, jadi bagaimana dia bisa jatuh ke peran pasif seperti ini?

Zhanghao ingin melepaskan tangan yang menahannya, tetapi Hanbin dengan kejam menekan tangannya yang melambai dengan liar dan menyeretnya ke pelukannya. Dia menyandarkan dirinya ke sandaran kepala tempat tidur.

Plakk

Hanbin memukul pantatnya dengan keras.

“Ouch!” Zhanghao langsung merasakan rasa sakit yang begitu mengejutkan hingga air mata mengalir di matanya, tetapi tangannya terjepit di punggungnya sendiri, jadi dia tidak bisa membalas pria di depannya.

Tatapan Hanbin gelap dan bergejolak, membuat jantungnya berdebar kencang. Dia mengangkat tangannya lagi dan tamparan yang keras dan jelas terdengar, pipi pantatnya yang pucat langsung memerah tercetak bentuk lima jari.

Zhanghao tidak pernah diintimidasi begitu kejam saat bercinta di tempat tidur. Dia berserapah dengan marah, “Kamu keparat ...... beraninya memukulku lagi ...... brengsek ......”

Hanbin benar-benar diam, pupil matanya begitu gelap hingga tampak tak berdasar. Tangannya yang besar terjepit erat di pinggangnya dan dia mendorong ke atas dengan keras, menusuk langsung ke titik terdalamnya, sementara pada saat yang sama dia melayangkan pukulan lain.

Napas Zhanghao tercekat di dadanya dan, bahkan sebelum dia bisa terkesiap, pinggangnya yang dicengkeram dibanting dengan kejam sehingga dia ditembus lebih dalam. Tubuhnya terus-menerus dilempar ke atas dan ke bawah dan pantatnya dipukul dari satu sisi ke sisi lain berulang kali.

Dia menggigit bibirnya dengan keras sehingga permohonan belas kasihan di balik giginya tidak bisa lepas, sampai bibirnya memutih karena gigitan dan meneteskan keringat, tetapi Hanbin, yang sudah gila, tidak bisa merasa kasihan untuk Zhanghao saat ini. Ketika penis yang kaku mencapai titik terdalamnya, benda itu secara penuh mengisi saluran sensitif Zhanghao, sampai cum nya yang sudah dikeluarkan jauh ke dalam bercampur dengan cairan omega-nya sendiri dan mulai bocor, sampai tempat di mana mereka terhubung menjadi lengket dan basah karena cairan.

Zhanghao gemetar dari ujung kepala sampai ujung kaki, kakinya berulang kali bergetar, matanya berkaca-kaca dan pandangannya tidak fokus. Dia mengeluarkan erangan lembut beberapa menit kemudian, semburan tipis datang menetes dari kemaluannya, saat Hanbin masuk ke dalam dirinya untuk keempat kalinya malam itu.

Bahkan dalam kondisi heat biasa (tanpa obat) seks terus menerus yang intens seperti ini sudah cukup untuk membuat omega manapun runtuh.

“Nggak mau lagi...Aku bener-bener gak kuat…..Mas….lepasin aku……”

Benar-benar tak berdaya, dia berbaring bersujud di dadanya yang panas dan berkeringat. Saat ini Hanbin berada di bawah kendali penuh dari nafsunya, jadi Zhanghao tidak punya pilihan selain memohon dengan lembut, berharap untuk membangkitkan sedikit kasih sayang lembut suaminya.

Cara ini rupanya berhasil. Hanbin menghentikan gerakan pinggulnya, lalu mencengkeram dagunya, memaksanya mengangkat kepala untuk dicium. Lidah mereka kusut bersama lengket dan bibirnya tersedot sampai membengkak.

Saat mereka berciuman, Zhanghao tiba-tiba merasakan tangan Hanbin menelusuri garis tulang punggungnya, membuatnya gemetar merinding.

Pantatnya baru saja dipukul merah, jadi terasa sakit dan kesemutan, sedikit gemetar saat disentuh, tetapi tangan besar Hanbin menutupi pipinya dan meremas dengan kuat, meremas dan memutar dagingnya.

“Mmm ...... jangan ......” Mulut Zhanghao kemudian diblokir sehingga protesnya tidak bisa didengar. Semua kekuatan di tubuhnya habis, hungga dia bahkan tidak bisa mengangkat tangan.

Gesekan penis dengan dinding bagian dalamnya begitu jelas dan panas. Tubuh Zhanghao menegang ketika dia tersentak. Wajahnya memerah padam saat dia menahan napas dan air mata dari matanya yang basah bergetar seolah hendak jatuh.

Tamatlah riwayatku…… permainan alphaku yang sesungguhnya baru saja dimulai, aku benar-benar akan dipermainkan sampai mati……

Dia membuat upaya terakhir untuk berjuang, memohon, “Mas… kalau gini aku bisa mati…… udah ya please…… aku mohon ……”

Sayangnya, permintaannya sia-sia.

Dia dibaringkan sekali lagi di tempat tidur yang lembab. Dia mencengkeram erat seprai yang telah lama kusut saat kakinya terlipat di dadanya dan dia terpaksa menahan tusukan keras lainnya.

“Oh mmm ...... ah ahh ah ...... bajingan ...... hiks”

Air matanya yang menggantung akhirnya jatuh. Zhanghao, yang tidak pernah menangis sejak dia berusia delapan tahun, mengerang dan menangis hebat terlepas dari reputasinya. Hanbin, yang kehilangan akal sehat, tidak mengatakan sepatah kata pun, hanya fokus mengerahkan seluruh kekuatannya untuk bercinta, mengeluarkan napas panas saat dia terengah-engah, tatapannya yang dalam tertuju pada Zhanghao seperti serigala lapar yang menikmati mangsanya yang lezat.

Heat omega ditekan oleh feromon alfa yang saat ini terlalu kuat dan menakutkan, tidak berani untuk tak terkendali dan dengan patuh menyerah, membiarkan feromon alfa mengamuk dan mendatangkan malapetaka di dalam.

Zhanghao dibalik dan ditekan ke tempat tidur sehingga pergumulan bisa berlanjut. Setiap tusukan yang datang ke pantatnya sangat sulit untuk ditanggung. Dengan sedikit energi terakhirnya, dia berjuang untuk merangkak ke depan sambil menangis, tetapi Hanbin mencengkeram pergelangan kakinya dan menyeretnya ke belakang dengan mudah. Pinggulnya dengan garang mendorong ke depan dan, sekali lagi, memenuhi dirinya hingga penuh.

“Mmm…..Aku benci——mmph…..”

Sebuah tangan besar menahan mulutnya dan kata-kata itu diblokir kembali ke tenggorokannya. Air matanya tumpah ke tangan Hanbin.

Ketika semburan panas yang banyak masuk ke dalam rahimnya, Zhanghao menangis sampai matanya membengkak, tubuhnya tersentak berulang kali. Tidak sedikit pun dari tubuhnya yang tidak menjadi merah, paha bagian dalam dan dadanya telah digigit dan dihisap dengan cupang yang tak terhitung jumlahnya – dia tampak seperti telah dipermainkan sampai mati.

Karena penggunaan tenggorokannya yang berlebihan dan kehilangan banyak cairan, dia sekarang sangat dehidrasi sehingga dia hanya bisa memeras beberapa kata dari tenggorokannya, “Haus......”

Hanbin menatap omega yang cantik dan menggoda yang membuatnya gila dan menarik napas dalam-dalam. Udara masih dipenuhi dengan feromon kaya dan manis. Dia akhirnya mengeluarkan kemaluannya yang sudah lama dimasukkan, masih sekeras batu, dan dengan santai membersihkannya. Lalu dia menunjuk ke arah Zhanghao.

Mata Zhanghao membelalak tak percaya.

Sebelum dia bisa menyelesaikan umpatan “fuck o-”, rahangnya dicengkeram dengan kuat dan penis yang panjang dan tebal dimasukkan, menghalangi semua kata-katanya.

Bagian dalam mulutnya yang kering hampir terbakar karena gesekan. Penis itu menekan ke dalam tenggorokannya, begitu dalam sehingga dia hampir tersedak, tetapi dia tidak bisa meludahkannya dan hanya bisa membuka mulutnya selebar mungkin.

Tanpa belas kasihan sedikit pun, Hanbin cum di mulutnya, menggunakan spermanya sendiri untuk menghilangkan rasa hausnya. Zhanghao sangat marah sehingga dia ingin melontarkan serangkaian kutukan, tetapi mulutnya penuh rasa lengket. Setelah dia selesai meludahkan cairan Hanbin dari mulutnya, Hanbin menariknya dari tempat tidur dan menciumnya dengan ganas.

Sperma dari lubang Zhanghao mulai menetes dalam posisi ini, tetapi dia kelelahan, jadi dia tidak memiliki kekuatan untuk melawan meskipun dia malu dan hanya bisa membiarkan bibirnya tersedot hingga mati rasa. Penis Hanbin yang panas dan tebal sekali lagi masuk ke dalam dan lubangnya yang basah berkedut dan terkepal tanpa sadar, seolah-olah memohon agar kejantanan yang ganas dan tanpa ampun itu tetap berada di dalam.

Hanbin tidak pernah begitu ganas di tempat tidur, namun saat ini ia tampak seolah-olah sudah gila, mendorong dengan kekuatan lebih dari sebelumnya, membuat suara peraduan kulit yang tak henti-hentinya keluar. Zhanghao sangat kacau sehingga kesadarannya berangsur-angsur memudar, air liur terus menerus keluar dari mulutnya, air mata menutupi seluruh wajahnya, saat dia terengah-engah karena tangisannya.

Dia benar-benar ketakutan, takut disetubuhi sampai mati, jadi dia terus menangis memohon belas kasihan, “Han-Hanbin......jangan......mmm ahh.....Mas.......Mas Hanbin......aku sekarat......”

Namun, Hanbin benar-benar mengabaikan air mata, mata merah, dan kondisi mental Zhanghao yang hancur, ia melemparkan omeganya ke tempat tidur sekali lagi. Saat seluruh tubuh Zhanghao gemetar karena feromon yang menakutkan, Hanbin menjepit tangan dan kakinya. Kemudian dia menundukkan kepalanya dan membuka mulutnya, giginya yang tajam menggigit kelenjar omega di sisi lehernya.

Pada malam ini, Zhanghao menyadari betapa lembut dan perhatiannya Hanbin (mode normal) di tempat tidur.

Setelah itu, dia tidak dapat menghitung jumlah ronde yang dihabiskan. Dia hanya samar-samar ingat bahwa dia sangat dehidrasi sehingga dia bahkan tidak bisa menangis lagi. Dia terisak-isak dan memohon untuk waktu yang lama, sampai akhirnya Hanbin membawanya ke dapur. Dia memberinya air dengan mulutnya sendiri, lalu menekannya untuk bercinta di dekat wastafel, lalu pergi dari dapur untuk bercinta di ruang makan, lalu pergi dari ruang makan untuk bercinta di ruang ganti mereka.

Di ruang ganti, Zhanghao dibawa ke depan cermin dan kemudian diikat untuk berlutut di lantai, jadi dia harus menyaksikan dirinya disetubuhi dalam jarak satu inci dengan kedua matanya, dipermalukan oleh Hanbin. Dia tidak tahan dengan siksaan dan akhirnya pingsan, lalu disetubuhi lagi ketika dia bangun, disetubuhi sampai dia pingsan sekali lagi.

Berulang kali, selama enam jam penuh.

Out Of Control


Setelah tiba di rumah, ketika makan malam dan mandi selesai, Hanbin membungkus dirinya dengan selimut di sofa sembari menonton televisi.

“Minum susu?” Zhanghao datang membawa susu yang baru dihangatkan, “itu akan membantumu tidur.”

Frustrasi di hati Hanbin tiba-tiba menghilang sedikit. Dia benar-benar lupa bahwa pria di depannya adalah orang yang menyebabkan dia dilema, Hanbin tersenyum,“Oke.”

Lihat, omega-nya adalah yang paling lembut dan perhatian di dunia.

Zhanghao menyaksikan Hanbin minum susu dalam sekali teguk dan merasa lega.

Sudah beres.

Botol penambah alfa telah ditambahkan ke dalam susu. Dia telah menghitung tanggalnya dan panasnya mungkin akan dimulai pada malam hari. Pada saat itu, ketika feromonnya meluap dari kamar tidur dan melayang ke ruang tamu, Hanbin pasti tidak akan mampu menahan dorongannya dan seekor binatang buas akan muncul. Apakah dia masih harus khawatir tentang cara merayunya?

Tidak ada jalan untuk mundur sekarang dan keputusan ada di tangannya, yang benar-benar sempurna.

Memikirkan hal ini, Zhanghao menyeringai dengan bangga pada dirinya sendiri dan berkata kepada Hanbin, “Aku akan tidur, selamat malam.”

“OK, selamat malam!”

Hanbin, tenggelam dalam perasaan terharunya, sama sekali tidak menyadari betapa jahatnya omega-nya baru saja tersenyum.

.

Heatnya datang lebih cepat dari yang diperkirakan.

Setelah tidur yang terasa hanya beberapa jam, Zhanghao dibangunkan oleh gelombang panas di dalam tubuhnya.

Untungnya, jumlah feromon yang dia butuhkan sejak awal relatif rendah, jadi dia hampir tidak bisa menahannya. Dia melirik ke pintu kamar tidurnya dan, bagus, pintunya terbuka. Jadi dia berbaring menunggu seseorang mengambil umpan.

Setelah menunggu sekitar sepuluh menit, dia tiba-tiba mendengar suara langkah kaki yang cepat dari ruang tamu.

“Hao, kamu ...... apakah kamu ......” Napas Hanbin tidak stabil, saat dia terengah-engah dalam kegelapan.

Zhanghao tidak bersuara, menutup matanya dan berpura-pura tertidur. Dia mengerutkan alisnya, memasang ekspresi seolah-olah dia menderita dalam mimpinya.

Hanbin mendekati kepala tempat tidur dan menyalakan lampu. Aroma feromon yang masuk ke hidungnya semakin pekat dan jantungnya berdegup kencang. Dia mengangkat tangannya, ingin menghaluskan alis omega-nya, tetapi tiba-tiba teringat sesuatu dan tidak berani menyentuhnya.

“Mmm ......” Zhanghao mengeluarkan erangan seolah berbicara dalam tidurnya, mengisinya dengan rasa rayuan malas, lalu sedikit membuka bibirnya, terengah-engah, dan menjilat bibirnya tanpa sadar.

Hanbin menelan ludah.

“Zhanghao ...... bangun ......” Termotivasi oleh perlindungan diri, dia memutuskan untuk membangunkannya terlebih dahulu, berkata, “Apakah kamu baik-baik saja? Biarkan aku melihatmu …… ”

Zhanghao membuka matanya sedikit bingung, “Hah? Apa yang salah……”

Hanbin terengah-engah, panas mengalir langsung ke pangkal pahanya. Aneh – di masa lalu, di awal masa heat Zhanghao, tingkat pengendalian dirinya tidak pernah serendah ini. Tapi hari ini, aroma manisnya tampak sangat menggoda……

Aroma feromon omega terlalu kuat.

Pintunya jelas terbuka, tetapi aromanya sepertinya menyerbu setiap hembusan udara, setiap tarikan dan hembusan napas. Begitu padat sehingga aroma menggoda membuatnya sangat terstimulasi, seolah-olah dia telah dikurung di sauna yang berapi-api, tidak dapat menghentikan panas yang menjalar ke tubuh Hanbin dari ujung kepala sampai ujung kaki. Keringat bercucuran di dahinya dan berangsur-angsur menyatu menjadi butir-butir keringat, menetes ke dagunya.

“Zhanghao……Aku……” Saat dia membuka mulutnya, dia menemukan bahwa tenggorokannya menjadi serak, kering seolah-olah telah terbakar. Kesadarannya berangsur-angsur menjadi keruh dan tidak jelas.

Zhanghao sendiri sangat tidak nyaman. Feromon Hanbin merespons miliknya dengan kekuatan hampir dua kali lipat, sehingga feromon alfa yang meluap juga merangsangnya dua kali lipat.

Dengan kata lain, saat ini dia juga mengalami Heat yang dua kali lebih kuat dari biasanya.

Kedua belah pihak sama-sama menderita.

Sialan! Obat sampah macam apa ini, Zhanghao hampir meledak karena marah, ingin segera bergegas ke alamat perusahaan manufaktur di botol untuk menghancurkannya berkeping-keping.

Tapi sebaliknya, saat ini dia hanya bisa berbaring lemas di tempat tidur, sama sekali tidak berdaya. Dia melipat kakinya dan meringkuk seperti bola, agar Hanbin tidak melihat betapa dia menginginkannya.

“Zhanghao ......” Hanbin memanggil lagi. Melihat tidak ada respon dari pria di tempat tidur, dia benar-benar tidak bisa menahan diri. Dipenuhi dengan keinginan, dia menekan tangan ke kemaluannya dan pergi untuk menyentak dirinya sendiri.

Ketika Zhanghao mendengar suara kain bergesekan dengan dirinya sendiri, dia menoleh untuk melihat, tepat pada waktunya untuk melihat Hanbin memasukkan tangannya ke dalam celananya.

“Apa-apaan, kamu ......”

Hanbin begitu tenggelam dalam feromon sehingga pikirannya menjadi kabur. Matanya memancarkan kobaran nafsu yang dalam saat dia menatapnya. Dia mendorong celana piyamanya sedikit lagi, memperlihatkan ujung kemaluannya yang besar, mulai membelai dirinya sendiri tepat di depan matanya.

“…..apa kau tidak malu……” Zhanghao mengatakan ini, tapi dia tidak bisa mengalihkan pandangannya, tatapannya seperti menembus ke dalam celana piyama yang merepotkan itu.

Hanbin mengepalkan kemaluannya yang kaku dan dengan lembut menggoyangkannya ke arahnya, “Ia ingin masuk......”

Ini jelas bukan sesuatu yang akan dilakukan Hanbin saat berpikiran jernih.

Zhanghao menelan air liurnya, tiba-tiba berpikir bahwa Hanbin yang OOC seperti ini sebenarnya cukup menawan dan seksi.

Tapi keadaan mereka berdua saat ini benar-benar tidak terlalu baik. Dia takut jika mereka memulai sesuatu, dia akan terbakar.

“Melihatmu begitu menyedihkan seperti ini, aku akan menunjukkan belas kasihan dan dengan enggan setuju…… tapi,” tambahnya karena khawatir, “kamu tidak boleh berlebihan……”

Ketika Hanbin mendengar ini, dia bangkit dari sofa dan merangkak ke tempat tidur. Dia menopang dirinya dengan lengannya yang kuat di kedua sisi kepala Zhanghao, menjebaknya dalam bayang-bayang sosoknya yang tinggi. Auranya yang kuat dan menindas berbeda dari yang biasanya dia bawa dan pupil matanya bersinar terang.

“Aku mungkin......tidak bisa menahan diri.”